Jumat, 11 Januari 2013

Banjir Jakarta ‘Masalah Sosial ?‘



Banjir memang menjadi momok bagi ibukota Jakarta. Bagaimana tidak, di DKI Jakarta ketika hujan cukup deras walaupun hanya sebentar, sudah dipastikan beberapa daerah langganan banjir tergenang air. Bahkan tidak terjadi hujan pun Jakarta sering tertimpa banjir, ‘katanya sih banjir tersebut karena air kiriman dari Bogor’.  Secara umum penyebab Banjir di daerah DKI Jakarta terjadi karena

-      Tanah kosong atau jalur hijau yang diharapkan menjadi lahan serapan air semakin berkurang lantaran pemukiman dan fasilitas bisnis yang terus bertambah dan melebar secara horizontal.

-      Bantaran sungai yang mestinya menampung air pada saat pasang, umumnya tertutup oleh hunian, baik resmi maupun liar dan sampah-sampah. Lebar sungai-sungai di Jakarta semakin menyempit, dari umumnya 75 meter menjadi 35 meter.
Kota Jakarta sampai kini belum bisa mengatasi persoalan banjir secara komprehensif. Bencana banjir di Jakarta bukan hanya persoalan masa kini, di masa kolonial Belanda pun Jakarta (Batavia) sudah dirundung dengan persoalan Banjir. Seperti yang tertulis pada halaman 112 pada buku ini Pada akhirnya banjir yang terjadi tahun 1893 mengakibatkan Batavia tenggelam, setelah itu Batavia dilanda banjir lagi, yaitu pada 1895, 1899, dan 1904.
Sungguh ironis, banjir yang sudah terjadi di Jakarta selama lebih dari 1 abad belumlah teratasi, padahal DKI Jakarta merupakan Ibukota Negara yang seharusnya menjadi cerminan baik untuk Negara Indonesia ini. Sehingga timbul sebuah pertanyaan 
‘Apakah banjir di DKI Jakarta, sebuah masalah sosial ?’.
Menurut analisa penulis selama ini, Banjir yang menipa DKI Jakarta merupakan masalah sosial, ini dikarenakan begitu seringnya DKI Jakarta mengalami banjir. Serta dampak yang ditimbulkan dari banjir tersebut tentunya sangat merugikan masyarakat DKI Jakarta selama bertahun-tahun. Seperti yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) DKI Jakarta, bahwa

1. Dampak Banjir pada Bidang Kesehatan

Setelah banjir, besar kemungkinan bahwa wabah penyakit mengancam daerah yang terkena banjir. Hal ini karena aliran banjir membawa sampah dan kotoran, ketika banjir surut, sampah dan kotoran akan berserakan di daerah yang terkena banjir. Keadaan ini dapat menurunkan tingkat kesehatan dari suatu daerah jika tidak ditanggulangi dengan cepat. Penyakit yang biasanya tersebar melalui sampah dan kotoran adalah diare dan penyakit yang dibawa oleh nyamuk (malaria, demam berdarah, dll). Di sisi lain, banjir dapat mencemari sumber air dari daerah di sekitarnya. Ketika banjir melewati suatu daerah, kandungan zat kimia dari dalam tanah dapat terbawa oleh air dan tercampur dalam aliran banjir. Kemudian aliran banjir akan mengalir sampai ke sumber air dan menjadi polutan pada sumber air tersebut. Hal ini dapat menyebabkan keracunan air pada daerah sekitar bencana.


2. Dampak Banjir pada Bidang Ekonomi

Banjir dapat memberi berdampak pada kerugian ekonomi suatu daerah. Pada dasarnya, ketika banjir menggenangi suatu pemukiman, besar kemungkinan pemukiman tersebut menjadi tidak layak tinggal lagi. Dari sisi perseorangan, biasanya perabot atau peralatan rumah tangga yang terkena banjir tidak mampu dipakai lagi. Ketika aliran air dari banjir ekstrim, tidak menutup kemungkinan dapat merusak daerah pemukiman suatu daerah. Dari sisi pemerintah, untuk melakukan perbaikan di daerah yang terkena banjir dibutuhkan biaya tambahan. Ditambah lagi dengan biaya pemeliharaan fasilitas yang dapat mencegah banjir seperti drainase, bendungan, atau gerbang sungai setiap tahunnya.


3.Dampak Banjir pada Bidang Sosial

Banjir dapat berdampak juga pada bidang sosial. Jumlah penduduk dari suatu daerah biasanya berkurang setelah banjir terjadi di daerah tersebut. Hal ini memaksa perubahan dan adaptasi terhadap suatu komunitas sosial di daerah tersebut. Selain itu, berpindahnya penduduk dari daerah banjir ke daerah baru juga memaksa penduduk untuk beradaptasi dengan keadaan yang baru. Komunitas sosial pada suatu pemukiman sampai sekarang masih sulit mengatasi dampak sosial yang terjadi setelah banjir.

Apakah kita akan terus – menerus membiarkan kondisi seperti ini terus terjadi ?. Tentunya tidak. Itu sebabnya, kita dan pemerintah harus mencari cara menanggulangi banjir meskipun sebenarnya cara tersebut sudah ada, kita tinggal merealisasikannya.
Berikut ini beberapa cara untuk menanggulangi banjir :

1.   Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya. Sungai dan selokan adalah tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.

2.   Larangan membuat rumah di dekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang yang datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya, keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian. Malah sebaliknya merusak lingkungan. Itu sebabnya, pemerintah seharusnya tegas melarang membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang – orang tanpa tujuan tidak jelas datang ke kota dalam jangka waktu lama (untuk menetap).

3.   Menanam pohon dan pohon – pohon yang tersisa tidak di tebangi lagi. Pohon adalah salah satu penompang kehidupan di suatu kota. Bayangkan, bila sebuah kota tidak penetralisasi pencemaran udara di siang hari, sebagai pengikat air di saat hujan melalui akar-akarnya. Bila sudah tidak ada  lagi pohon, bisa di bayangkan apa yang akan terjadi bila hujan tiba.


Cara menanggulangi banjir tersebut bisa di lakukan saat ini juga. Bila tidak sekarang, kapan lagi? Kita semua wajib memikirkan cara menanggulangi banjir. Bagaimanapun, hal itu adalah tanggung jawab bersama.
 


Demikianlah pembahasan mengenai Banjir Jakarta yang Menjadi Sebuah Masalah Sosial, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar